Keberangkatan delegasi Safari Dakwah ke Yogyakarta dilepas dan diantar langsung oleh pimpinan serta para wakil pimpinan Pondok Pesantren Khatamun Nabiyyin.


Ramadhan tahun ini menandai satu langkah penting dalam perjalanan Safari Dakwah Pondok Pesantren Khatamun Nabiyyin. Untuk pertama kalinya sejak program pengabdian itu dijalankan lebih dari satu dekade silam, pesantren ini mengutus delegasi muballighah ke Daerah Istimewa Yogyakarta, tepatnya di Kabupaten Sleman.

Tiga santri Perempuan Ana Azkiyatul Fuadah, Latifah Az Zahra, dan Ummu Farwa, menjalani masa pengabdian sejak 19 Februari hingga 19 April 2026. Penugasan ini bukan sekadar perluasan titik kegiatan, melainkan pembukaan medan dakwah baru: sebuah ikhtiar awal untuk membangun hubungan antara pesantren dan masyarakat Yogyakarta melalui jalur pendidikan, pendekatan sosial, serta keterlibatan kultural yang lebih membumi.

Selama ini, Safari Dakwah Khatamun Nabiyyin telah menjangkau sejumlah wilayah di Nusantara, dari Sulawesi, Kalimantan, dan Ambon hingga Madura dan Bandung. Pada pengutusan angkatan ke-12 tahun 2026, para delegasi ditempatkan di delapan titik, yakni Palu, Sidrap, Majene, Tosora, Goa, Jeneponto, Jakarta, dan Yogyakarta. Di antara seluruh lokasi itu, Yogyakarta memiliki makna tersendiri, sebab di sinilah untuk pertama kalinya jejak Safari Dakwah dirintis.

Merintis, dalam pengertian yang sesungguhnya, selalu menuntut lebih dari sekadar hadir. Ia mengharuskan seseorang memulai dari pengenalan, membaca situasi, memahami watak lingkungan, lalu membangun kepercayaan dengan sabar. Karena itu, langkah awal yang ditempuh ketiga muballighah ini bukanlah langsung tampil di ruang-ruang formal, melainkan melakukan pemetaan sosial dan pendidikan di sekitar lokasi pengabdian.

Dari proses itulah hubungan mulai dibangun dengan sejumlah lembaga pendidikan di wilayah Sleman, antara lain MI Wahid Hasyim, SD SahabatQ, SD Negeri Condong Catur, MAN 1 Yogyakarta, MTsN 10 Sleman, dan MIN 1 Sleman. Surat permohonan mengajar yang mereka kirimkan bukan hanya sebentuk prosedur administratif, melainkan pintu awal untuk memperkenalkan diri sekaligus membuka ruang kolaborasi di bidang pendidikan keagamaan.

Sambutan yang datang kemudian memperlihatkan bahwa ikhtiar itu menemukan jalan. Di SLB Karnnamanohara, mereka dilibatkan dalam kegiatan Pesantren Ramadhan bagi siswa berkebutuhan khusus dengan mendampingi pembelajaran membaca Al-Qur’an. Di MIN 1 Sleman, mereka dipercaya menjadi guru pengganti mata pelajaran Fikih. Sementara di SDN Condong Catur, mereka ikut serta sebagai dewan juri dalam berbagai lomba keagamaan, mulai dari Musabaqah Hifdzil Qur’an, pidato cilik, kaligrafi, hingga lomba cerdas cermat. Di Pesantren Al-Ihsan, ketiganya juga menyampaikan materi Fikih dan Akhlak kepada sekitar 130 peserta Pesantren Ramadhan.

Rangkaian kegiatan itu menunjukkan bahwa kehadiran para muballighah ini tidak berhenti pada simbol pengabdian. Mereka masuk ke ruang-ruang yang nyata, bekerja dalam bidang yang konkret, dan mengambil bagian dalam proses pendidikan yang berlangsung di tengah masyarakat.

Namun demikian, dakwah yang mereka jalankan tidak hanya bertumpu pada ruang kelas. Ada sisi lain yang justru menjadi penentu: kemampuan menumbuhkan kedekatan sosial. Di wilayah yang baru pertama kali menerima kehadiran mereka, kepercayaan tidak dibangun oleh program yang megah, melainkan oleh sikap yang sederhana dan kehadiran yang berulang.

Karena itu, interaksi dengan masyarakat dijalin melalui hal-hal yang tampak biasa, tetapi sesungguhnya penting: berbelanja di warung warga, menyapa masyarakat dengan bahasa daerah, mengikuti salat Tarawih berjamaah di masjid sekitar, serta membiasakan diri hadir dalam ritme keseharian kampung. Dari sana, dakwah mengambil bentuknya yang paling alami, bukan semata penyampaian, melainkan pergaulan yang baik, adab yang terjaga, dan kesediaan untuk mendekat tanpa merasa paling asing maupun paling tahu.

Dalam proses yang sama, ketiga muballighah ini juga menjalin silaturahmi dengan para tokoh masyarakat setempat. Koordinasi dilakukan mulai dari tingkat RT hingga bertemu langsung dengan Kepala Dukuh untuk menyampaikan maksud kedatangan serta program kegiatan selama masa pengabdian. Langkah ini penting bukan hanya demi kelancaran pelaksanaan, melainkan sebagai penegasan bahwa dakwah yang baik selalu tumbuh di atas penghormatan kepada tatanan sosial yang ada.

Keterlibatan mereka kemudian meluas ke tingkat komunitas. Di Masjid Darul Hikmah dan Mushola Nurul Iman, mereka turut membina Taman Pendidikan Al-Qur’an melalui kegiatan menyimak bacaan anak-anak, mendampingi tadarus, hingga membersamai tadarus ibu-ibu selepas salat Tarawih. Di titik ini, pengabdian menampakkan wajahnya yang paling jernih: hadir bukan untuk sekadar dilihat, tetapi untuk membersamai.

Safari Dakwah di Yogyakarta juga memperlihatkan bahwa pembinaan keagamaan tidak harus berjalan dalam bentuk yang tunggal. Selain pengajaran dasar keislaman, para muballighah menghadirkan kajian tafsir Al-Qur’an, diskusi keagamaan bersama warga, serta kegiatan Ihya Lailatul Qadr yang melibatkan para pemuda setempat. Beberapa kegiatan juga berlangsung melalui kolaborasi dengan mahasiswa UIN Sunan Kalijaga, webinar bersama alumni Universitas Gadjah Mada, serta kajian kitab kuning rutin di Masjid Al-Huda.

Keseluruhan rangkaian ini menunjukkan bahwa Safari Dakwah bukan semata program seremonial Ramadhan. Ia adalah ikhtiar mempertemukan tradisi pesantren dengan masyarakat dalam bentuk yang lebih hidup: melalui pendidikan, melalui pergaulan sosial, dan melalui kerja sama dengan beragam unsur di lingkungan setempat.

Pesantren Ramadhan di Pondok Pesantren Al Huda

Kehadiran tiga muballighah perintis ini pada akhirnya mengingatkan bahwa dakwah tidak selalu harus bermula dari podium. Dalam banyak keadaan, ia justru bertumbuh dari langkah-langkah yang lebih tenang: mengetuk pintu sekolah, menyapa warga, menemani anak-anak mengaji, dan menjaga hubungan baik dengan masyarakat. Dari kerja-kerja yang tampak kecil itulah, fondasi kepercayaan dibangun.

Di Sleman, fondasi itu kini sedang diletakkan. Mungkin ia belum tampak sebagai sesuatu yang besar. Namun sebagaimana banyak ikhtiar yang bermakna, yang paling penting sering kali bukan seberapa riuh ia terdengar, melainkan seberapa dalam ia berakar.

Dengan demikian, Safari Dakwah Khatamun Nabiyyin di Yogyakarta bukan hanya menandai hadirnya program di wilayah baru. Ia juga menandai lahirnya sebuah hubungan: antara pesantren dan masyarakat, antara dakwah dan pengabdian, antara nilai-nilai yang dibawa dari tradisi keilmuan pesantren dengan realitas sosial yang ditemui di lapangan.