Aku Ingin Memahami Taqwa dengan Cara Sederhana, Tapi kok malah ruwet


Saya sering berpikir, bagaimana kalau ternyata ketaqwaan dan pahala itu sejatinya adalah sebuah aset yang bernilai, semacam mata uang transendental. Dalam kehidupan dunia, kita mengenal rupiah, dolar, emas, bahkan aset digital seperti kripto. Semua itu bernilai karena ada kesepakatan manusia yang mengakuinya. Tetapi dalam kehidupan setelah dunia (bagi yang percaya eskatologi) kita tidak tahu persis apa yang menjadi tolok ukur nilai di alam sana.

Sayapun bertanya-tanya, bagaimana jika surga dan neraka bukanlah semata-mata tempat yang berbeda, melainkan sebuah “mode kehidupan” sebagaimana dunia ini. Orang-orang yang semasa hidupnya rajin mengumpulkan aset taqwa dan pahala akan mendapati bahwa kehidupan di alam sana begitu mudah, lapang, dan membahagiakan. Karena mereka sudah cukup “modal” untuk hidup di sana. Sebaliknya, orang-orang yang malas, enggan percaya, atau abai terhadap pengumpulan aset ini, akan menjumpai kehidupan yang sempit, berat, dan sulit itulah neraka dalam bentuknya yang hakiki.

Asumsikan pikiran saya benar, tapi mengapa kita tidak diberi alat untuk mengakses laporan aset taqwa kita, sebagaimana rekening bank atau dompet digital? Bukankah dengan itu kita akan lebih sadar dan rajin menabung pahala, menambang taqwa, bahkan menginvestasikannya agar mendapatkan capital gain dan dividen akhirat?

Jangan-jangan Tuhan sudah memberikan akses itu melalui ilmu dan kesadaran batin. Tetapi kita terhijabi oleh kebodohan dan kelalaian. karena Para nabi dan wali menyadari habitat aset itu. Nabi Muhammad misalnya, beliau maksum bukan sekadar karena mode auto pilot dari Tuhan, melainkan karena kesadarannya atas nilai hakikat: bahwa kezhaliman dan maksiat bukan saja tidak menguntungkan, tetapi merugikan dan menghilangkan aset taqwa. Maka beliau bahkan tidak pernah berpikir untuk melakukannya, memang karena melakukan dosa ngga worth it banget.

Kita liat Al-Qur’an sendiri menggunakan bahasa investasi dan perdagangan ketika membicarakan pahala, Sesungguhnya Allah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka (QS. At-Taubah: 111). Dalam ayat lain Barangsiapa datang dengan (membawa) kebaikan, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipatnya (QS. Al-An’am: 160). Bukankah ini semua mirip sekali dengan logika “capital gain” dalam dunia finansial? Amal baik berkembang biak, investasi amal tidak pernah rugi, dan Allah sendiri adalah “otoritas moneter” yang menjamin nilainya.

Namun, saya juga sadar bahwa yang membuat kita bahagia dan selamat bukan pahala semata, melainkan rahmat Tuhan. Rasulullah bersabda: Tidak seorang pun masuk surga karena amalnya semata… kecuali dengan rahmat Allah.” (HR. Muslim).

Maka, bagaimana mendudukkan posisi aset taqwa dan rahmat? Bagi saya, aset taqwa bukanlah sesuatu yang bertentangan dengan rahmat, melainkan kualitas jiwa yang menjadikannya layak menyerap rahmat. Analogi sederhananya: rahmat Allah itu ibarat matahari yang menyinari semua. Jiwa yang kaya aset taqwa akan menyerap cahaya itu menjadi hangat dan terang (surga), sedangkan jiwa yang miskin aset taqwa justru terbakar olehnya (neraka).

Di sini saya ingat ungkapan Sayyidina Ali tentang tingkatan orang beribadah: budak, pedagang, dan pecinta. Budak taat karena takut dihukum, Pedagang beribadah karena ingin keuntungan, Pecinta beribadah karena cinta. Tentu tidak ada yang salah dari ketiganya, tetapi setiap hamba harus terus naik level. Pada tahap budak atau pedagang, pahala masih dianggap aset eksternal yang bisa dimiliki. Namun pada tahap pecinta, pahala bukan lagi tujuan, melainkan konsekuensi alami dari cinta. Pada titik inilah aset taqwa melekat pada jiwa, menyatu dengan ruh, dan justru menjadi jalan untuk menyatu dengan rahmat Tuhan.

Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin menggambarkan amal shalih sebagai cahaya yang tumbuh di hati, sedangkan amal buruk menimbulkan kegelapan. Mulla Sadra bahkan menegaskan bahwa amal mengubah substansi jiwa (harakah jawhariyyah). Artinya, pahala itu bukan sekadar catatan di “server langit”, tetapi benar-benar kapital ruhani yang melekat dalam eksistensi kita.

Sedikit humor yang serius: di dunia finansial kita kenal “investasi bodong” , begitu Juga dalam “pasar modal akhirat”, investasi bodong adalah melakukan kebaikan dengan cara yang dungu, konyol dan pasti tanpa akal sehat. Misalnya, berdonasi ke lembaga yang ternyata menyalurkan dana ke kelompok jihadis atau teroris. itu bukan menambah aset taqwa, itu justru menggerusnya. Kebaikan tetap butuh akal, etika, dan verifikasi, agar niat mulia tidak berubah jadi mudarat.

Maka saya berpikir, aset taqwa dan pahala itu bukan benda materi yang terpisah dari cinta dan rahmat, tetapi nilai yang menyatu dengan jiwa dan ruh manusia. Jiwa yang kaya akan aset ini semakin bercahaya, semakin dekat dengan rahmat Ilahi, dan semakin mudah menjalani kehidupan akhirat. Surga dan neraka pada akhirnya bukan sekadar tempat, melainkan kondisi eksistensial jiwa: kaya aset taqwa berarti hidup dalam rahmat (surga), miskin aset taqwa berarti hidup dalam kesempitan (neraka).

Mungkin inilah rahasia kenapa kita tidak diberi “rekening akhirat” yang bisa dicek setiap saat. Sebab perjalanan ini adalah latihan kesadaran, bukan sekadar transaksi. Kita ditantang untuk percaya pada nilai yang tak terlihat, sebagaimana orang percaya pada aset digital. Bedanya, aset ruhani ini tak bisa dipalsukan, sebab setiap amal tercatat rapi di server Ilahi, tak pernah down, tak pernah keliru, dan tak bisa diretas. Dan lebih dari sekadar catatan, ia hidup sebagai block chains ruhani: setiap kebaikan menjadi satu blok yang tervalidasi oleh niat, keikhlasan, dan ridha-Nya; dirangkai berantai menjadi riwayat otentik jiwa yang kita bawa menghadap ke haribaan-Nya.

Barangkali, saat itulah kita paham bahwa setiap sujud, sedekah, dan kesabaran bukan hanya “deposito pahala”, melainkan butiran cahaya yang membentuk tubuh ruhani kita. Semakin padat rantai kebaikan itu, semakin terang jaringan batin kita menyerap pancaran rahmat-Nya.

Maka surga dan neraka bukan semata soal di mana kita ditempatkan, melainkan apakah arsitektur jiwa kita kompatibel dengan cahaya dan cinta-Nya. Tugas kita di dunia sederhana sekaligus agung: menambang cahaya, menabung taqwa, dan menginvestasikan diri dalam cinta Ilahi membangun block chains kebaikan hingga catatan kita di server Ilahi bersinar sebagai bukti cinta, bukan sekadar angka-angka transaksi.

Mursyid Al Haq